Mimpinya yang Bergaung dalam Kepalaku
7 April , 2009
Layaknya potongan kejadian yang tak kunjung bisa dilupakan, kini ingatan itu seperti melompat keluar lalu menjelma layar dengan gambar bergerak. Tepat di hadapanku dengan penuh dominasi, tak bisa kulupakan wajah setajam itu. Wajah yang sama persis, 10 tahun yang lalu di tempat tak jauh dari tempatku sekarang berdiri.
“Aku ingin jadi penguasa, dan aku akan berkuasa…”
Entah langsung ditujukannya padaku ataukah pada riak kecil air di antara deru mesin kelotok di depan kami, tapi ucapan itu serasa menggema meski di udara terbuka dan bertahun kemudian masih jadi gaung dalam kepalaku. Tatapannya lurus ke depan, agak menyipit dengan senyum seorang yang yakin pada takdirnya. Senyuman, atau sekilas tampak seperti seringai, tampak mengejek. Mengejek pada kerendahdirian, karena dia nampak seperti orang yang telah bertarung dengan diri sendiri dan memenangkannya.
Lalu, pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibirku, pertanyaan dari orang yang ketakutan pada ambisi yang mengusik,
“Mimpi yang sangat berani. Dan bagaimana jika tak ada yang menawarimu kekuasaan?”
Pandangannya masih lurus, menatap mungkin deretan rumah lanting di seberang sungai yang beberapa tahun selanjutnya sudah digusur. Angin beradu Akasia di samping kami.
“Mungkin saja aku yang akan mencarinya. Tapi, aku tak begitu yakin, kekuasaanlah kelak yang akan menjemputku. Kita lihat nanti.”
“Mimpimu masih begitu asing bagiku No, kenapa pula kau harus bermimpi menjadi penguasa. Ada begitu banyak mimpi. Aku juga punya mimpi yang melintas batas kemungkinan, bahkan jauh melampauinya. Kaupun bisa memilih bermimpi menjadi apa saja, tapi kenapa kau memilih menjadi penguasa? Seno, Seno, padahal kita baru menyaksikan drama kejatuhan kekuasaan di negeri ini.”
Berhenti memandangi sungai, dia menoleh padaku. Ditatapnya aku dengan pandangan menilai yang membuatku jengah.
“Kekuasaan, Ta, adalah jalan paling aman untuk menunjukkan kebenaran.”
Bagaimana kita bisa mengingat potongan kenangan tentang sesuatu yang bahkan mungkin tak punya pengaruh apapun dalam hidup kita, bukan pula kenangan tentang orang yang begitu penting dalam hidup kita. Tapi, kenyataan bahwa aku menyimpan utuh ingatan tentang seseorang bernama Seno yang kebetulan dii suatu siang bertemu denganku di jalan lalu kuajak minum es kelapa di depan kantor gubernur padahal dia bukan teman dekatku. 10 tahun lalu, membuatku bertanya-tanya bagaimana kerja ingatan kita kadang tak terjelaskan.
Seno, bukan orang yang menyenangkan. Dia tak punya banyak teman, karena dia bukan orang yang mau bersusah payah mencari teman. Menjadi temannya pun sepertinya memerlukan mental superior, karena jika tidak, pertemanan itu lebih banyak didominasi perintah-perintahnya. Ketika ada yang mencoba mengingatkannya dengan tingkahnya yang tak luhur itu, dia cuma akan berkata,
“Aku seorang pragmatis, apa dayaku.”
Tak segan-segan pula ia memancing kemarahan orang lain dengan mencela mereka secara langsung. Meski bukan orang yang menyenangkan, dia jelas populer. Dia tahu cara mempopulerkan dirinya, mengkritik, menuding, memprotes. Demikian saja.
Sekarang, 10 tahun kemudian, aku bertemu lagi dengannya. Persisnya aku bertemu lagi dengan posternya dalam ukuran besar. Wajahnya yang persis dengan wajah yang berkata padaku bahwa ia ingin menjadi penguasa 10 tahun lalu, terpampang jelas di sebuah papan reklame di tikungan menjelang menyisir siring di depan masjid sabilal Muhtadin. Siring yang 10 tahun lalu tak ada.
Kami tak pernah benar-benar akrab. Dia bukan orang yang kucari jika aku sebentar pulang ke Banjarmasin dari mukimku di Saint petersburgh, Rusia. Bukan orang yang aku ingin tahu kabarnya di sela saat melepas rinduku pada waktu pulang kampung yang juga begitu jarang. Tak juga orang yang dikabarkan padaku oleh kawan-kawan dekatku yang juga hampir tak pernah kujumpa saat aku pulang kampung. Kini posternya terpampang, minta dipilih sebagai anggota DPR RI.
“Paman kenal dengan Pak seno? Kok melihatnya serius sekali?” tanya keponakanku yang sedang menyetir.
“Ya, Paman kenal, seorang teman lama.”
“Wah, kebetulan, aku menyukai orang ini Paman. Menurutku, dia sangat pantas mengurusi negeri ini. Malah, tak cuma sebagai anggota DPR, dia lebih pantas menjadi presiden. Dia bersih, Paman tahu…”
“Entahlah…”, kata itu keluar begitu saja dari bibirku
Rully, keponakanku itu tiba-tiba mengerem mendadak,
“Oh ya. Aku lupa, , hari ini dia kan ada di toko buku di mall. Peluncuran buku barunya. Bagaimana kalau kita ke sana.”
Tanpa menunggu persetujuanku, Rully memutar mobil ayahnya menuju mall.
Tak banyak yang berubah dari dirinya, masih serupa dengan ingatanku. Seno. Lama menunggu hingga kerumunan di sekitarnya menipis lalu bubar. Saat memandangku pertama kali, raut wajahnya tak berubah. Tentunya dia sudah lupa. Namun, dengan raut tak berubah itu dia menghampiriku.
“Dinta… Rusia tak membuatmu tambah menderita rupanya,” disalaminya aku. Raut wajahnya masih sama, tak tersenyum, tak meringis. Datar saja.
“Masih mengenaliku rupanya, tahu pula apa dimana aku habiskan waktu belakangan. Mimpimu yang dulu kau ceritakan, sudah mulai kau tapaki rupanya.
Aku membawa keponakanku, penggemarmu.”
Disalaminya juga Rully, kali ini dengan senyum yang teramat ramah. Setelahnya, dia melangkah menuju meja tempat buku-bukunya bertumpuk, aku dan Rully seperti tersihir, mengikutinya.
“Tentu saja aku mengenali orang-orang Ta, dan yang terpenting, memastikan orang-orang mengenalku. Oh ya, aku takkan bersikap terlampau manis padamu Ta, kau bukan konstituenku. Dan kau Rully, buku dengan tanda tanganku ini gratis untukmu. Pastikan kau memilihku
Maaf Ta, aku tak punya banyak waktu luang dan kurasa kau juga begitu. Aku harus mengejar pesawat. Nah Ta, Selamat tinggal. “
Dia memunggungi kami ketika membenahi tasnya. Masih seno yang sama? Entahlah, aku tak benar-benar mengenalnya. Terlampau angkuh bagiku. Terlampau yakin dengan diri sendiri. Ketika dia selesai menyalami kami dan mulai beranjak menyusul timnya yang sudah selesai berbenah, kulontarkan pertanyaan itu dengan cukup lantang,
“Apakah kekuasaan sudah kau dapatkan No? Kaukah yang sekarang mengejar kekuasaan?”
Dia menoleh.
Matanya, caranya menatap, raut wajahnya yang dipenuhi senyum keyakinan akan kemenangan, persis seperti gambar bergerak yang selama ini tersimpan di salah satu bagian kepalaku sejak 10 tahun lalu. Ekspresi yang sama dan ia berucap,
“Agaknya sudah aku dapatkan Ta, meski aku tak ingat siapa yang mengejar, aku kah atau kekuasaan itu, yang pasti ada banyak kebenaran yang bisa disuarakan dengan aman Ta. Sekiranya begitu. Semoga…”
Lalu tertinggallah aku, Rully keponakanku dan kesibukan yang tidak kupahami di sekitarku.
Sehari sebelum kepulanganku ke Petersburgh, di sebuah tayangan televisi, di sela kesibukanku berkemas, aku menemukannya, Seno. Aku melihatnya diwawancara seputar tuduhan korupsi yang menerpanya. Masih dengan keyakinan yang sama pada wajahnya, dijawabnya pertanyaan seorang reporter,
“Itulah cara kerja fitnah, takkan mem biarkan orang-orang seperti saya bebas.”
Aku bisa saja memilih untuk tidak mempercayainya, dan seharusnya aku tak mempercayainya. Tapi, tatapan yang ditunjukkannya di layar televisi itu, persis sekali dengan tatapannya saat menyapu sungai Martapura di kedai es kelapa 10 tahun silam. Wajahnya juga wajah yang sama yang memandang tuntas penuh keyakinan pada ucapannya sendiri.
Semua itu membuatku, bimbang.,
Pasca pesta demokrasi pemilihan anggota legislatif 9 April 2009 mendatang, yang merupakan sebuah perayaan besar tentang bagaimana rakyat memilih pemimpin mereka dengan leluasa, setelahnya, dalam hitungan bulan, Universitas terbesar di Kalimantan Selatan, Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) juga akan memilih pemimpinnya, rektornya yang baru. Meski begitu, tidak bisa disamakan memang antara pesta demokrasi tanggal 9 April dengan pesta demokrasi ’bubuhan’ Unlam.
Sekadar mengingatkan, pemilihan Rektor (Pilrektor) 4 Juni 2005, bukanlah pemilihan langsung oleh seluruh masyarakat Unlam lazimnya pemilu legislatif atau pilpres. Sebagian khalayak kampus menamakannya pemilihan semi langsung. Saya sendiri masih beranggapan, bahkan istilah ’semi’-pun tak layak disematkan pada model pemilihan seperti itu.
Mari kita runut kembali momen pilrektor tahun 2005. Pada rapat pleno senat Unlam, 17 Mei 2005, Senat memutuskan pemilihan rektor pada waktu itu terbagi atas beberapa tahap: penjaringan bakal calon menjadi calon, penjaringan para calon menjadi 6 orang calon, penjaringan 6 orang menjadi 3 orang calon, terakhir, ketiga calon tersebut lantas diajukan ke Mendiknas untuk selanjutnya akan ditentunkan siapakah yang akan menjadi Rektor Unlam.
Tahapan penjaringan bakal calon menjadi calon dilaksanakan oleh tim seleksi bentukan Senat, tahap penentuan calon dari 6 menjadi 3 orang ada di tangan Senat. Cuma penjaringan para calon menjadi 6 orang calon saja yang dilaksanakan melalui pemilihan oleh Civitas Akademika Unlam. Itupun untuk mahasiswa, yang berhak memilih adalah mereka yang bertatus pengurus BEM dan BLM fakultas serta DEMA Unlam.
Jika melihat dari tahapan-tahapan ini maka sebenarnya partisipasi masyarakat kampus masih sangat kecil dan kurang menentukan, khususnya suara mahasiswa yang justru merupakan mayoritas masyarakat kampus.
Menjelang Pilrektor yang beberapa bulan lagi akan digelar, pertanyaan yang penting muncul sebenarnya adalah: Akan seperti apa mekanisme pemilihan Rektor Unlam? Apakah sama seperti pemilihan tahun 2005? Ataukah ada pencerahan yang dilakukan untuk membuat pemilihan itu menjadi ’the real’ pesta demokrasi masyarakat Unlam? Atau yang paling parah, justru kembali pada pemilihan tidak aspiratif oleh Senat, saja? Semoga yang kedualah yang dipilih, demi Unlam yang lebih baik.
Dalam rangka pembenahan tata cara pemilihan rektor semi langsung, ada dua hal yang menjadi catatan dalam tulisan ini. Yang pertama, porsi mahasiswa sebagai pemilih. Mahasiswa sebagai bagian dari civitas Akademika Unlam yang jumlahnya mayoritas, justru paling sedikit porsinya sebagai pemilih, cuma anggota BEM dan BLM. Tapi ini jauh lebih baik daripada ditetapkannya kuota yang sama pada tiap fakultas, sebuah cara yang tidak adil mengingat jumlah mahasiswa tiap fakultas berbeda-beda. Sebenarnya sudah tepat menempatkan anggota BEM dan BLM sebagai pemilih karena merekalah representasi organisatoris dan aktivis mahasiswa yang sedikit banyaknya mengerti tentang kondisi politik kampus hingga tak cukup mudah dimanfaatkan. Namun, BEM dan BLM saja tidak cukup, perlu kiranya perwakilan tiap Himpunan Mahasiswa Jurusan/Program Studi untuk menjamin keterwakilan mahasiswa secara umum.
Yang juga perlu menjadi perhatian adalah tentang bagaimana para pemilih anggota BEM dan BLM dari fakultas-fakultas yang BEM/BLM-nya mati suri alias tidak aktif lagi seperti BEM Fakultas Hukum? Jangan sampai hal ini menjadi permainan oknum, misalnya BEM seperti ini tiba-tiba menjadi aktif dan pengurusnya tiba-tiba lengkap, padahal sebelumnya tak ada tanda-tanda kehidupan. Perlu diatur juga bagaimana keterlibatan pemilih mahasiswa pada BEM dan BLM yang sudah tidak aktif lagi.
Selanjutnya adalah tentang keterlibatan mahasiswa pada penjaringan calon dari dari 6 menjadi 3. Sebelumnya perlu ditekankan bahwa mahasiswa sebagai mayoritas masyarakat kampus dan juga menjadi sebab utama eksistensinya Universitas berhak untuk mengawal pemilihan rektornya. Bahkan jika aturan bahwa Mendiknas yang menentukan siapa Rektor bisa diubah dan mahasiswa bisa dilibatkan dalam kewenangan Mendiknas itu, maka itu layak dicoba. Dengan dasar pemikiran macam itu, maka dalam rapat senat sekalipun, seharusnya perwakilan mahasiswa dilibatkan bahkan memiliki hak suara untuk memilih. Keterlibatan perwakilan mahasiswa pada rapat Senat untuk memilih calon Rektor itu sudah saatnyalah dilakukan. Mungkin yang lantas jadi pertanyaan pentingnya adalah, berapa kuota untuk mahasiswa dan siapakah yang berhak mewakili mahasiswa di rapat Senat tersebut? Hal ini akan jadi diskusi yang sangat menarik.
Selain porsi mahasiswa, hal lain yang menjadi catatan adalah kampanye calon. Pada pemilihan sebelumnya kampanye para calon menjelang pemilihan semi langsung sudah menarik. Beliau-beliau saat itu menyiapkan tim sukses beserta rancangan visi misi dan rencana program yang visioner dan cukup aplikatif. Kampanyenya pun cukup dinamis, di Banjarmasin dan Banjarbaru. Cuma yang perlu dibenahi lagi adalah perlunya ditambahkan item seperti debat calon yang lebih bisa membedah kualifikasi, kapasitas dan kapabilitas calon, atau acara-acara sejenis itu dimana masyarakat kampus bisa lebih muidah mengakses informasi tentang para calon dan bisa berpartisipasi untuk menilai para calon.
Sampai saat ini, aturan dunia pendidikan memang tidak cukup demokratis. Mendiknas tetap penentu siapa Rektor, namun dalam keserbaterbatasan kita, hendaklah aspirasi Civitas Akademika kampus menjadi hal yang penting bahkan prioritas dan hendak pula menentukan. Paling tidak, calon-calon yang diserahkan pada Mendiknas untuk dipilih adalah calon-calon yang ’mendapat restu’ dari civitas Akademika Unlam.
Selain itu, harapan kita bersama, siapapun yang menjadi Rektor Unlam, dialah yang akan membawa banyak perubahan positif di Unlam. Kemajuan Unlam tidak lagi cuma ditunjukkan pada gerbang, kolam atau renovasi rektorat, tapi lebih dari itu. Unlam akan bisa meroket secara kualitas, baik kualitas dosen, mahasiswa maupun sarana dan media serta pelayanan publik kampus. Mudah-mudahan kemajuan yang sesungguhnya akan terwujud di Unlam dengan kepemimpinan yang baru. Semoga.
Wallaua’lam
Awal Mula
16 Mei , 2008
Mudah saja melalui hidup tanpa menuliskan apapun, tanpa mengesankan siapapun, tanpa melakukan apapun. Tapi hidup semacam itu tak juga bisa dikatakan hidup yang menyenangkan. Mungkin saja ini saatnya mulai memberi hidup semacam kesempatan untuk menunjukkan eksistensinya.
Berkenaan dengan Bulan Mei
16 Mei , 2008
Kupikir tak ada bulan yang sedemikian banyak mengingatkankan kita pada rentetan sejarah seperti bulan Mei. Hardiknas tanggal 2 Mei adalah sejarah tentang Taman siswa, Harkitnas yang tahun ini sudah 100 tahun adalah sejarah tentang salah satu gerakan perintis pergerakan Indonesia, Budi Utomo. Tragedi Trisakti, 12 Mei yang sampai sekarang tak pernah selesai, meninggalkan perih atas terbunuhnya 4 mahasiswa, 14 Mei yang mengngatkan kita 10 tahun lalu pernah terjadi amuk massa paling mengerikan di jakarta, 23 Mei mengingatkan kita 9 tahun lalu banjarmasin juga mengalami tragedi serupa. Sungguh bulan yang luar biasa, mei ini maksud saya.